Kamis, 27 Februari 2014

GALERI FOTO PANORAMA KEINDAHAN PULAU NUSA PENIDA

Peta Pulau Bali
Peta Pulau Nusa Penida
Rumput Laut Nusa Penida
Petani Rumput Laut
Ikan Pari di Nusa Penida
Ikan Mola-mola di Nusa Penida
Pasih Uug (Broken Beach)
Pasih Uug (Broken Beach)
Mata Air Guyangan
Suwehan Beach
Jukung-jukung
Atuh Beach
Toya Pakeh
Atuh Beach
Lembongan
Mol Lenteng Pelilit
Pantai Kelingking
Atuh
Pantai Atuh (Atuh Beach)
Pantai Atuh (Atuh Beach)
Pasih Uug (Broken Beach)
Pantai Kelingking
Pantai Penida (Crystal Bay)
Pantai Penida (Crystal Bay)
Pasih Uug (Broken Beach)

Rabu, 26 Februari 2014

ENDEK RANG-RANG NUSA PENIDA

Motif Wajik
Endek Rang-rang Nusa Penida adalah salah satu produksi tenun ibu rumah tangga di Pulau Nusa Penida tepatnya di Banjar Dinas Karang. Endek ini sebenarnya mulai dibuat sekitar tahun 1980-an. Karena masalah pemasaran waktu itu, endek Rang-rang tidak berlanjut produksinya dan hanya digunakan untuk koleksi pribadi.
Seiring berjalannya waktu dan perkembangan jaman saat ini, endek Rang-rang menjadi Booming saat ini dimana peminat kain/endek ini sangat drastis sampai ke mancanegara. Oleh sebab itu motifnya juga mulai dikembangkan. Dahulu motif endek Rang-rang hanya satu warna, berbeda dengan sekarang yang sudah dikombinasikan dengan berbagai macam warna dan motif. Bahkan bahan dasar benangnya pun sudah ada yang menggunakan bahan dasar alam sehingga tidak luntur.

Motif Bianglala
Karena melonjaknya daya beli, produksinya pun tidak lagi di Banjar Dinas Karang. Di banjar-banjar lain juga mempelajari bagaimana menenun endek Rang-rang, seperti: Banjar Dinas Ampel, Semaya, Tanglad, Pejukutan, Karangsari dan lainya di Kecamatan Nusa Penida.

Gaung endek Rang-rang memang sudah mendunia, tidak hanya para artis ibukota saja yang menggunakan endek ini bahkan sudah sampai ke luar negeri. Endek ini biasanya dikombinasikan pada jas, kemeja, gaun, tas, dompet bahkan sandal juga. 

Jika berminat untuk mengetahui bagaimana pembuatan endek Rang-rang, anda bisa datang ke Pulau Nusa Penida.

Contact Person Penjualan: Wayan 'Bagonk' Sudiarman, HP: 082144547412, 
PIN BBM: 769F94FO,   FB: Bagonk Rock


Alat Tenun Tradisional


Warna Alam
Alat Tenun Modern


PENDIDIKAN KARAKTER



Arti Pendidikan Karakter

Seperti terminologi lainnya, tidak ada defenisi tunggal untuk pendidikan karakter. Secara etimologis, karakter berarti watak atau tabiat. Ada juga yang menyamakannya dengan kebiasaan. Selain itu ada yang mengaitkannya dengan keyakinan. Bahkan disamakan dengan akhlak.
Dari pengertian ini, yang jelas karakter sering dikaitkan dengan kejiwaan. Karenanya, menurut ahli psikologi, karakter adalah sistem keyakinan dan kebiasaan yang ada dalam diri seseorang yang mengarahkannya dalam bertingkah laku.

Lalu dimanakah letak karakter dalam diri seseorang? Inipun sulit dijawab. Namun ada “hukum” yang menarik terkait karakter. Kira-kira begini bunyinya: pikiran menghasilkan ucapan; ucapan mempengaruhi tindakan; tindakan menghasilkan kebiasaan; kebiasaan membentuk karakter; karakter menentukan nasib.

Ternyata, hal yang paling mendasar dalam pembentukan karakter itu tiada lain adalah pikiran. Maklumlah, dalam pikiran itulah semua tindakan manusia itu diprogram. Bermula dari pikiran itulah, baik buruknya tindakan manusia berasal. Bilamana pikirannya positif, maka tindakannya positif dan sebaliknya.

Oleh sebab itu, pikiran harus mendapatkan asupan yang baik agar menghasilkan asupan yang baik agar menghasilkan tindakan yang baik. Dalam konteks inilah pendidikan karakter sangat penting guna memberikan asupan yang baik itu. Kenyataannya, secara intrinsik yang namanya pendidikan bertujuan memberikan pikiran-pikiran positif. Jadi kloplah pasangan kata pendidikan dan karakter ini.

Empat Dimensi Pendidikan Karakter

Mencermati konsep dasar pendidikan, karakter yang dikembangkan Kemdiknas, tampaklah di sana empat dimensinya. Empat dimensi pendidikan karakter meliputi: olah pikir, olah hati, olah raga, dan oleh karsa.

Yang patut dicatat dalam empat dimensi ini adalah keterkaitan di antara mereka satu sama lain dilambangkan dengan empat lingkaran yang saling mengikat. Maknanya, karakter seorang individu dinyatakan lengkap jika keempat dimensi itu tumbuh dan berkembang dalam diri yang bersangkutan.

Tidak sempurna pribadi seseorang jika hanya pintar saja (olah otak). Apa artinya jika kepandaian jika tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan, kemanusiaan, dan kesosialan serta kewargaan. Karena itu perlu olah hati.

Tentu saja, selain otak dan hatinya perlu berkembang, manusia juga perlu berkembang raga dan karsanya. Hal demikian agar ia dapat hadir di lingkungan sosialnya. Otak yang pintar dan hati yang lembut, belum sepenuhnya berguna jika belum memberikan kemanfaatan bagi sekitarnya.

Sedangkan olah raga, diperlukan agar seseorang memiliki keterjagaan fisik. Dengan sehat secara fisik, maka ketiga potensi sebelumnya, otak, hati, dan rasa, dapat dimanfaatkan secara optimal. Bayangkan, jika seseorang yang pintar otaknya, lembut hatinya, banyak karsanya, namun sakit-sakitan maka ia tidak akan memberikan dampak yang maksimal bagi lingkungannya.

Nilai Inti Pendidikan Karakter
Mendiknas, M. Nuh mengibaratkan nilai-nilai pada pendidikan karakter itu, termasuk yang berada dalam empat dimensi itu -- sebagai sebuah pohon. Ibarat pohon, pendidikan karakter itu memiliki akar yang karenanya pohon itu dapat tumbuh dan berkembang. Demikian pula seseorang bisa hidup dengan baik jika memiliki nilai-nilai inti karakter sebagai akar kehidupannya. Nilai inti tersebut terdiri dari empat aspek.

Pertama, jujur. Semua orang tak terkecuali orang jahat apalagi orang baik, menyukai kejujuran. Kejujuran menghasilkan kebaikan. Dengan jujur, semua masalah menjadi mudah terpecahkan.

Kedua, cerdas. Sudah terang jujur merupakan sesuatu yang mendasar dalam hidup seseorang. Namun jujur saja tetapi –maaf- bodoh kurang berarti karena itu akan lebih banyak menjadi beban bagi orang lain. Oleh sebab itu ia harus cerdas supaya bisa mengambil peran aktif dalam menjawab setiap persoalan paling tidak yang menimpa dirinya sendiri.

Ketiga, bisa berteman. Apa artinya jujur dan cerdas namun tidak bisa bergaul dengan orang lain? Orang egois, mau menang sendiri saja, dan suka menyakiti orang lain tak banyak manfaatnya walaupun jujur dan cerdas. Karenanya karakter yang harus dimiliki adalah harus bisa berteman.

Keempat, bertanggung jawab. Inilah karakter yang menjadi taruhan seseorang dalam kehidupan sosialnya. Sebagai sikap ksatria, karakter bertanggung jawab mencerminkan kepribadian yang dapat diandalkan sekaligus membanggakan. Bukankah setiap perbuatan selalu dimintai pertanggungjawabannya?

Tujuan Pendidikan Karakter
Dalam berbagai kesempatan Mendiknas, M. Nuh menegaskan bahwa pendidikan karakter bagi peserta didik Indonesia bertujuan hendak menjadikan manusia Indonesia sebagai individu yang memiliki tiga elemen sekaligus di bawah ini.

Pertama, sebagai makhluk Tuhan yang mengakui bahwa semua makhluk di hadapan Tuhan itu sama. Bahwasanya sesame makhluk Tuhan tidak ada yang lebih unggul dan lebih hebat dari yang lainnya. Jika setiap orang memiliki pikiran seperti ini, niscaya akan timbul rasa saling mengasihi antar sesama. Hidup pun menjadi rukun dan saling menghormati, toleran dengan perbedaan, dan suka tolong menolong.

Kedua, sebagai manusia intelektual yang memiliki kepenasaranan untuk tahu (curiousity) terhadap berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, seseorang akan pintar dan cerdas karena selalu berusaha menambah ilmu dan keterampilannya. Pada gilirannya, iptek yang dikuasainya tersebut dapat dimanfaatkan bukan saja untuk kepentingan dirinya sendiri melainkan juga kemaslahatan orang lain bahkan warga dunia.

Ketiga, sebgai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang cinta dan bangga pada tanah air. Cinta dicirikan oleh rasa memiliki yang kuat pada NKRI yang berasaskan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Bangga diindikasikan oleh raihan prestasi yang disumbangkan pada NKRI demi kejayaan bangsa dan negara. Dengan tiga tujuan utama ini, pendidikan karakter bersifat komprehensif yang hendak menjadikan setiap anak bangsa memiliki watak yang menjunjung tinggi nilai ketaqwaan, kesosialan, dan kebangsaan. Lebih dari itu, watak ketaqwaan, kesosialan, dan kebangsaan tidak dilakukan secara membabi buta melainkan dilaksanakan dengan penuh kesadaran karena ketiga watak ini disertai dengan watak keilmuan (curiousity)

Kearifan Lokal untuk Pendidikan Karakter
Disadari atau tidak, sungguh amat banyak nilai-nilai tradisional yang hidup dalam masyarakat yang dapat dijadikan sebagai muatan pendidikan karakter. Nilai-nilai tradisi ini telah menjadi kearifan lokal yang walaupun berbeda-beda di antara suku-suku bangsa namun memiliki kesamaan yang sangat signifikan. Manakala nilai-nilai tradisional ini hendak disinkronkan dengan pendidikan karakter niscaya sangat sejalan dengan nilai inti dan tujuan pendidikan karakter.

Tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa kita, kepercayaan pada sesuatu yang supranatural menjadi bagian hidup dari kebanyakan suku bangsa. Sebelum Hindu sebagai agama yang pertama kali datang ke Indonesia, suku-suku bangsa di Tanah Air umumnya menganut animisme dan dinamisme. Mereka percaya bahwa di balik alam yang nyata itu ada kekuatan yang mengendalikan hidup mereka dan mereka memujanya. Lewat pemujaan itu mereka berharap kehidupan mereka, sanak familinya dan lingkungannya berjalan dengan baik. Atas dasar kepercayaan yang dianutnya mereka menata harmoni sosial mereka.

Ketika agama-agama masuk mulai dari Hindu, Budha, Konghucu, Kristen, dan Islam, kepercayaan bangsa Indonesia kepada tuhan semakin berkembang. Sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya masing-masing, setiap pemeluk agama percaya bahwa hanya Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kuasa; sedangkan manusia harus tunduk dan patuh pada titahNya termasuk menghargai sesama dan melestarikan alam sekitar.

Selanjutnya kepercayaan kepada Tuhan itu bukan saja menjadi landasan spiritual serta tuntutan dan tuntunan ritual para pemeluknya, melainkan pula menjadi sumber nilai dan norma sosial seperti kejujuran, tolong menolong, bertanggung jawab dan lain sebagainya. Seperti dimaklumi, salah satu pilar keimanan adalah percaya bahwa Tuhan maha melihat. Pilar inilah yang membuat pemeluk agama merasa harus selalu jujur. Pilar lainnya, setiap perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hadapan Tuhan. Aspek inilah yang mendorong para pemeluk agama selalu mempertimbangkan setiap tindakannya: apakah sejalan dengan ajaran agama ataukah menyimpang. Sedangkan untuk sikap tolong menolong, setiap agama memerintahkannya minimal di anatara pemeluk agamanya masing-masing.

Di samping nilai dan norma yang bersumber dari agama, di tengah masyarakat kita dalam suku-suku bangsa Indonesia juga ada dan masih hidup nilai-nilai dan norma sosial yang bersumber dari adat. Biasanya kearifan lokal yang bersumber dari adat ini berbentuk pepatah petitih yang mengajarkan kebaikan seperti ajakan untuk menambah pengetahuan, dorongan untuk kerja keras, nasihat dalam mengumpulkan kekayaan, unggah ungguh berbahasa, cara menghormati orang lain, hingga ajaran melestarikan alam sekitar.

Secara turun temurun kearifan lokal yang bersumber dari adat istiadat itu, dan bersanding dengan kearifan lokal yang bersumber dari ajaran agama, masih terus diwariskan dan sesungguhnya masih hidup di tengah masyarakat kita. Karena itu, ketika pendidikan karakter didengungkan ulang maka sejatinya kearifan lokal itu dapat digunakan untuk memperkuat pendidikan karakter. Sebaliknya pendidikan karakter ini merevitalisasi kearifan lokal untuk dimanfaatkan dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara.

Oleh karena tokoh-tokoh pemangku kearifan lokal ini pada dasarnya masih banyak, dan pada umumnya terdidik, maka sangat terbukalah peluang mereka untuk menyandingkan pendidikan karakter dan kearifan lokal. Bilamana kita mampu menyandingkan dalam arti menunjukkan bahwa pendidikan karakter sejalan dengan nilai tradisi kita sendiri, maka efektivitas pendidikan karakter akan cepat terasa. Semoga.


Narasumber: Prof. Ibnu Hamad, Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kemdikbud


Selasa, 25 Februari 2014

ATUH BEACH - NUSA PENIDA ISLAND

Pantai Berpasir Putih yang Menakjubkan...



Pantai Atuh terletak sekitar 20 km dari kota Kecamatan Nusa Penida. Tepatnya di Desa Pejukutan. Ada 3 jalan untuk menuju pantai berpasir putih ini. Pertama, lewat Banjar Karang. Kedua, bisa melewati Banjar Cemlagi dan ketiga bisa melewati Banjar Pelilit.
Pantai indah yang berpasir putih ini masih sangat original sehingga kita bisa merasakan indahnya suasana pantai yang di apit oleh tebing-tebing tinggi. Panorama bukit yang bolong yang menghiasi lautnya akan terasa menakjubkan mata kita akan ciptaan Tuhan ini. 

Disebelah barat pantai terdapat Pura Segara dan 2 sumur alami yang airnya sangat jernih dan segar. Tidak hanya pantai yang berpasir putihnya yang indah, akan tetapi dibalik bukit sebelah selatan terdapat gugusan pulau/karang seperti berlian. Pemandangan ini akan terasa lebih dekat jika anda menuju pantai melewati Banjar Pelilit. Tetapi akan lebih indah juga kalo kita menuju pantai ini melewati Banjar Karang dimana kita bisa mengambil gambar dari atas objek batu yang bolong menyerupai candi.

Mata kita benar-benar dimanjakan jika kita sudah berada disini. Akan tetapi disarankan untuk tidak berenang agak ke tengah mendekati batu bolong tersebut karena ombaknya yang tidak bisa kita prediksi. 

Jadi siapkan tenaga untuk menuju ke pantai Atuh karena kita akan tracking untuk menuju kesana. Hal ini disebabkan karena akses jalan belum sepenuhnya sampai di atas bukit, tetapi sudah ada anak tangga untuk menuju ke bawah menuju pantai ini.

Jika anda mau ke Pantai Atuh melewati Banjar Karang, anda bisa mengajak Local Boy yang siap mengantarkan anda menuju pantai ini.

Contact Person : Wayan 'Bagonk' Sudiarman, 
WA: 082144547412, 
                                                                  FB: Bagonk Rock



About Me

About Me


Saya lahir di pulau Nusa Penida dan dibesarkan di kota Singaraja. Selama 15 tahun saya pernah tinggal di kota pendidikan Singaraja, mulai dari sekolah di sana dan pernah bekerja di sana.
Saya menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Sekolah Laboratorium Universitas Udayana Singaraja yang sekarang sudah berganti nama menjadi Sekolah Laboratorium Undiksha Singaraja, dan dilanjutkan untuk menempuh studi Strata 1 di IKIP Negeri Singaraja (sekarang Undiksha) serta Program Pendidikan Profesi Guru di Undiksha dengan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
Saat ini saya mengajar di salah satu SMP Negeri di Nusa Penida.
Web blog ini saya buat untuk berbagi informasi pendidikan dan juga membantu para operator sekolah dalam mengerjakan aplikasi-aplikasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Saran dan kritik sangat diharapkan dalam meningkatkan isi dari web blog ini ke depan.

Salam Blogger!